Jurnal Cendekia

Kesiapan Calistung Anak: Mengapa Fondasi Belajar Lebih Penting daripada Sekadar Cepat Bisa Membaca?

📅 24 Juli 2026  ·  ✍️ Rumah Sekolah Cendekia

Banyak orang tua merasa cemas ketika anak menjelang masuk SD belum lancar membaca, menulis, atau berhitung. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesiapan calistung tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengenal huruf dan angka, tetapi juga oleh kematangan perkembangan anak secara menyeluruh.

Sebelum mampu membaca dengan baik, anak perlu memiliki kemampuan mendengarkan, berkomunikasi, memahami cerita, berkonsentrasi, mengendalikan emosi, serta memiliki koordinasi motorik yang baik. Demikian pula dalam berhitung, anak tidak cukup hanya menghafal angka. Ia perlu memahami konsep jumlah, pola, perbandingan, dan pemecahan masalah melalui pengalaman nyata.

Inilah mengapa di Rumah Sekolah Cendekia (RSC), pembelajaran calistung tidak dilakukan melalui drilling atau latihan berulang yang membuat anak tertekan. Kami percaya bahwa anak belajar paling baik ketika ia merasa aman, bahagia, dan terlibat aktif dalam pengalaman yang bermakna.

Di kelas, anak mengenal literasi melalui storytelling, percakapan, bermain peran, membaca buku bersama, hingga menceritakan kembali pengalaman mereka. Sementara itu, konsep numerasi tumbuh melalui kegiatan memasak, berkebun, membangun balok, bermain pasar, mengukur, mengelompokkan benda, dan berbagai proyek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

module: a;
hw-remosaic: 0;
touch: (0.3564815, 0.3564815);
modeInfo: ;
sceneMode: Night;
cct_value: 0;
AI_Scene: (-1, -1);
aec_lux: 51.0;
hist255: 0.0;
hist252~255: 0.0;
hist0~25: 0.0;

Pendekatan learning by playing dan integrated learning membuat anak tidak hanya belajar mengenal simbol huruf dan angka, tetapi juga memahami maknanya. Anak belajar berpikir, bertanya, bekerja sama, dan menemukan solusi. Kemampuan inilah yang menjadi bekal penting saat memasuki jenjang sekolah dasar.

Pemerintah melalui kebijakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan juga menegaskan bahwa tes calistung bukan lagi syarat masuk SD. Fokus pendidikan anak usia dini adalah membangun enam kemampuan fondasi, termasuk kematangan sosial-emosional, bahasa, motorik, kognitif, serta rasa senang belajar. Hal ini sejalan dengan keyakinan RSC bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar kemampuan akademik lebih cepat, tetapi menumbuhkan kecintaan belajar sepanjang hayat.

Karena itu, ketika orang tua bertanya, “Apakah anak saya sudah siap belajar calistung?” pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apakah fondasi belajarnya sudah kuat?” Anak yang memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, mampu berkonsentrasi, dan menikmati proses belajar akan lebih mudah mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara alami.

Di Rumah Sekolah Cendekia, kami percaya bahwa tujuan pendidikan bukan hanya membuat anak lebih cepat bisa, tetapi membantu mereka lebih siap belajar. Ketika fondasi tumbuh dengan kuat, kemampuan akademik akan berkembang lebih bermakna dan menjadi bekal bagi perjalanan belajar anak di masa depan.

← Kembali ke Jurnal Cendekia