Jurnal Cendekia

Butuh Sekampung untuk Menyalakan Cahaya Seorang Anak: Cerita dari Kemping Keluarga RSC

📅 07 September 2026  ·  ✍️ Rumah Sekolah Cendekia

Kemping Keluarga Rumah Sekolah Cendekia yang berlangsung pada 5–6 September 2026 di Moncong Sipolong Ramah Bissoloro bukan sekadar kegiatan bermalam bersama di alam. Ia menjadi ruang bagi anak, orang tua, dan sekolah untuk mengalami satu keyakinan sederhana: butuh sekampung untuk menyalakan cahaya seorang anak.

Menariknya, “kampung” itu bahkan mulai terbentuk sebelum tenda-tenda didirikan.

Melalui grup kelas, para orang tua berkoordinasi menyiapkan ransum, bahan makanan, perlengkapan memasak hingga kebutuhan tenda. Ada yang membawa ini, keluarga lain melengkapi itu. Sesuatu yang awalnya tampak seperti urusan teknis perlahan menjadi praktik kolaborasi.

Sesampainya di lokasi, kebersamaan itu semakin terasa. Keluarga mendirikan tenda, menata dapur, menyiapkan makanan, makan bersama, menjelajah alam dan menyelesaikan berbagai tantangan. Konsep “Satu Tenda, Satu Dapur, Satu Komunitas” memang dirancang agar keluarga tidak datang sebagai penonton, tetapi menjadi bagian aktif dari pengalaman bersama.

Dari “Keluarga Saya” Menjadi “Keluarga Kita”

Kemping Keluarga RSC sejak awal dirancang untuk mempererat hubungan antarkeluarga, membuka ruang kolaborasi orang tua, serta menumbuhkan sense of belonging sebagai bagian dari komunitas Rumah Sekolah Cendekia.

Karena itu, tidak semua aktivitas dilakukan bersama orang-orang yang sudah dikenal.

Dalam RSC Night Story & Parents Swap Cafe, misalnya, keluarga justru diajak untuk tidak hanya duduk bersama orang yang telah akrab. Mereka bermain, berbincang dan mendengar cerita dalam lingkaran baru.

Di sinilah makna “sekampung” perlahan hadir.

Anak tidak hanya mengenal ayah, ibu dan gurunya. Orang tua tidak hanya mengenal keluarga dari lingkaran terdekatnya. Kami ingin anak-anak RSC bertumbuh di tengah komunitas orang dewasa yang saling mengenal, saling menjaga dan percaya bahwa pendidikan anak adalah perjalanan yang dikerjakan bersama.

Surat Kecil untuk Bumi

Pagi berikutnya, suasana berubah menjadi lebih reflektif.

Dalam sesi Reflection of Earth, anak-anak menuliskan surat untuk bumi, sementara orang tua menuliskan surat untuk anak mereka di masa depan.

Suara anak-anak ternyata sederhana sekaligus kuat.

Mereka berharap bumi tetap sehat. Mereka ingin hutan dan laut tetap terjaga. Mereka berharap sampah semakin berkurang dan tidak lagi mengganggu bumi.

Bagi RSC, kepedulian terhadap lingkungan memang tidak cukup berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas. Anak perlu mengalami hubungan dengan alam, menikmati keindahannya, hidup di dalamnya, lalu mengambil tanggung jawab untuk menjaganya.

Karena itu, sebelum meninggalkan Bissoloro, setiap keluarga kembali membersihkan area tempat mereka tinggal dan mengumpulkan sampah. Prinsip Leave No Trace yang dirancang dengan pesan “Kita pergi, tetapi meninggalkan tempat ini lebih baik” menjadi tindakan nyata, bukan sekadar slogan.

Sebuah Pelukan di Akhir Perjalanan

Ada satu momen yang mungkin akan tinggal lebih lama dalam ingatan keluarga.

Di penghujung kegiatan, orang tua dan anak diajak berhenti sejenak dari segala kesibukan.

Renungan tentang menjadi orang tua, tentang memberi anak ruang untuk mencoba dan berbuat salah, tentang mendukung tanpa kehilangan kasih, serta tentang keberadaan sebuah “kampung” yang percaya kepada setiap anak, membawa suasana menjadi hening.

Beberapa orang tua menitikkan air mata.

Bukan karena kesedihan.

Melainkan haru.

Kemudian anak dan orang tua berpelukan.

Barangkali saat itulah makna tema kemping ini terasa paling nyata. Anak tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka membutuhkan orang-orang yang hadir, mendengarkan, memberikan kesempatan untuk bertumbuh, dan tetap menjadi tempat aman ketika mereka pulang.

Kami Sedang Membangun Sebuah Kampung

Tidak semua keluarga RSC dapat hadir dalam perjalanan kali ini. Sekitar 60 persen keluarga berkesempatan bergabung. Ada pula catatan yang menjadi bahan evaluasi kami, salah satunya keterbatasan fasilitas sanitasi yang membuat sebagian keluarga membutuhkan waktu lebih lama untuk mengikuti rangkaian kegiatan.

Namun sebuah komunitas tidak dibangun dari kesempurnaan sebuah acara.

Ia tumbuh dari kesediaan orang-orang di dalamnya untuk hadir, terlibat, saling membantu, belajar dan bertumbuh bersama.

Itulah yang kami temukan di Bissoloro.

Kami datang membawa tenda masing-masing.

Kami membawa makanan masing-masing.

Kami membawa cerita keluarga masing-masing.

Namun setelah dua hari hidup, bermain, makan, menjaga alam, berbagi cerita dan memeluk anak-anak bersama-sama, kami pulang membawa sesuatu yang lebih besar:

rasa menjadi bagian dari sebuah kampung.

Sebuah kampung yang ingin menjaga bumi tetap sehat.

Sebuah kampung yang memberi anak ruang menjadi dirinya sendiri.

Sebuah kampung yang percaya bahwa setiap anak memiliki cahayanya masing-masing.

Dan tugas kita bukan menentukan bagaimana cahaya itu harus bersinar.

Tugas kita adalah menjaganya agar tidak padam.

Karena untuk menyalakan cahaya seorang anak, memang dibutuhkan sekampung.

Dan kami sedang bertumbuh menjadi kampung itu.

← Kembali ke Jurnal Cendekia