Butuh Sekampung untuk Menyalakan Cahaya Seorang Anak: Cerita dari Kemping Keluarga RSC
Kemping Keluarga Rumah Sekolah Cendekia yang berlangsung pada 5–6 September 2026 di Moncong Sipolong Ramah Bissoloro…
Baca Selengkapnya →
Bissoloro Moncong Sipolong Gowa, September 2026
Pernahkah kita berpikir, apa yang terjadi dengan sampah yang kita tinggalkan setelah kita pulang? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah rimbunnya pepohonan Bissoloro’, pertanyaan tersebut menjadi sesuatu yang perlu direnungkan.
Kali ini, kemping tidak hanya mengajak keluarga untuk tidur di dalam tenda, bermain bersama, atau menikmati udara pegunungan. Ada satu hal lain yang ingin kami bawa pulang: belajar menjadi tamu yang baik bagi alam. Ketika kita datang ke alam, sebenarnya kita sedang berkunjung ke rumah yang bukan milik kita.
Kemping tahun ini mengusung konsep eco camping. Setiap keluarga diajak untuk meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai. Bahan makanan yang dibawa dari rumah dianjurkan untuk ditempatkan dalam wadah yang dapat digunakan kembali. Bukan sesuatu yang rumit, tetapi membutuhkan sedikit perubahan kebiasaan. Begitupun dengan penggunaan cairan pembersih peralatan menggunakan sabun eco enzyme.

Tidak membawa terlalu banyak kemasan.
Tidak meninggalkan apa pun yang tidak seharusnya ada di alam.
Dan ketika membawa sesuatu dari rumah, kita juga membawa pulangnya kembali jika memang tidak dapat terurai.
Di sinilah alam mulai bercerita.
Coba lihat apa yang terjadi di sekitar kita.
Buah yang jatuh dari pohon tidak menjadi masalah bagi tanah. Daun-daun kering yang bertebaran tidak membuat alam terlihat “kotor”. Bunga yang gugur pun tidak membutuhkan tempat sampah.
Semuanya memiliki perjalanan.
Diterima oleh tanah, diurai perlahan, lalu kembali menjadi bagian dari kehidupan berikutnya. Alam seolah memiliki caranya sendiri untuk mendaur ulang kehidupan. Daun yang hari ini jatuh, suatu saat menjadi bagian dari tanah yang menyuburkan pohon. Buah yang tersisa menjadi makanan bagi makhluk lain. Apa yang tampak seperti akhir, justru menjadi awal bagi kehidupan yang baru.
Lalu bagaimana dengan plastik?
Benda yang sering kita pilih karena praktis dan dianggap memudahkan kehidupan manusia, ternyata tidak semudah itu ketika kembali ke alam.
Ia tidak serta-merta hilang. Ia tidak selesai hanya karena sudah kita masukkan ke tempat sampah. Ia membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk terurai dan dapat meninggalkan persoalan bagi lingkungan.
Maka, eco camping bukan tentang menjadi sempurna. Bukan pula tentang tiba-tiba hidup tanpa plastik sama sekali.
Eco camping adalah tentang menyadari apa yang kita bawa, apa yang kita gunakan, dan ke mana semuanya akan berakhir.
Karena satu keluarga mungkin hanya membawa sedikit sampah.
Namun ketika puluhan keluarga berkumpul di satu tempat, jumlah kecil itu bisa menjadi sangat berarti.
Itulah mengapa setelah berkegiatan, setiap keluarga diajak untuk bertanggung jawab terhadap sampahnya. Sampah tidak sekadar dikumpulkan, tetapi dipilah sebelum dibuang pada tempat yang telah disediakan.
Anak-anak pun melihat bahwa menjaga alam bukan hanya pekerjaan petugas kebersihan. Bukan hanya tugas panitia. Bukan pula sesuatu yang cukup dibicarakan di dalam kelas. Menjaga alam adalah kebiasaan kecil yang bisa dimulai dari diri sendiri. Dari wadah makan yang dibawa dari rumah.
Dari memilih untuk tidak menggunakan kantong plastik yang sebenarnya tidak diperlukan. Dari mengambil kembali sampah yang kita hasilkan. Dari memilahnya.
Dan dari pertanyaan sederhana:
“Kalau aku meninggalkan tempat ini, apakah alam akan tetap baik-baik saja?”
Mungkin itulah pelajaran paling menarik dari kemping kali ini.
Kami datang membawa makanan, perlengkapan, dan berbagai kebutuhan untuk beberapa hari. Tetapi kami tidak ingin meninggalkan beban yang harus ditanggung alam setelah kami pergi.
Kami ingin datang sebagai tamu.
Menikmati udara segar.
Mendengar suara dedaunan.
Merasakan tanah di bawah kaki.
Menikmati kesejukan pepohonan.
Lalu pulang dengan membawa kenangan—bukan meninggalkan sampah.
Sebab alam sudah lebih dulu menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kehidupan berjalan: mengambil secukupnya, mengembalikan kembali, dan memberi ruang bagi kehidupan berikutnya.
Mungkin selama ini kita merasa sedang mengajarkan anak-anak tentang mencintai alam.
Dan ketika tenda-tenda akhirnya dibongkar, lampu dipadamkan, barang-barang kembali dimasukkan ke mobil, semoga ada satu hal yang ikut pulang bersama setiap keluarga.
Kebiasaan kecil untuk menjadi lebih ramah kepada bumi, bahkan setelah kemping selesai.
-Cerita dari bu Guru Yani-
