Di Antara Antrian Pagi dan Tawa Sore

_Catatan Kecil Tentang Hadir yang Menumbuhkan_

( Zulfikar Habibillah )

Setiap pagi di Rumah Sekolah Cendekia selalu dimulai dengan hal yang sama: langkah-langkah
kecil anak-anak, suara salam yang bersahutan, dan antrian di depan meja scanning menjadi
rutinitas. Bagi sebagian orang, mengantri mungkin sekadar rutinitas bahkan bisa menjadi sesuatu
yang membosankan atau melelahkan. Namun bagi saya, justru di sanalah cerita-cerita kecil
bermula. Cerita yang tak pernah saya rencanakan, tetapi selalu saya nantikan.
Saat mendampingi wakil siswa bertugas sebagai petugas scanning, saya hampir selalu
menyempatkan diri untuk berdiri di sana, di antara barisan anak-anak yang menunggu giliran untuk mengeluarkan perlengkapan dan di foto oleh petugas.
Bukan sekadar mengawasi, bukan pula hanya memastikan alur berjalan rapi. Saya hadir untuk satu
hal yang sederhana: mengajak mereka berbincang. Antrian itu saya ubah menjadi ruang temu.
ruang ngobrol, ruang aman.
Di sela-sela menunggu, saya mulai dengan pertanyaan ringan. Tentang pagi mereka. Tentang
perasaan hari itu. Tentang hal kecil yang kadang tak sempat mereka ceritakan di kelas. Kadang
saya yang memulai percakapan, kadang justru mereka yang lebih dulu bertanya tentang banyak
hal, dari yang sederhana hingga yang tak terduga.
Ada satu kebiasaan yang selalu membuat saya tersenyum: terutama anak-anak kelas 5 dan 6,
hampir selalu menyapa lebih dulu.
“Hai Pak Zul, selamat pagi.”
“Gimana kabarnya hari ini?”
Sapaan itu bukan formalitas. Ada kehangatan di sana. Ada rasa akrab yang tumbuh perlahan, tanpa
dipaksa. Saya membalas sapaan mereka, menanyakan kabar balik, dan percakapan pun mengalir
begitu saja seolah kami bukan sedang berdiri dalam antrian, melainkan duduk di satu meja yang
sama.

Kadang, tanpa diminta, mereka memuji penampilan saya.
“Pak Zul hari ini keren.”
“Pakaian & Sepatunya bagus, Pak.”
Atau yang paling jujur dan polos:
“Kalau hari ini, Pak Zul saya kasih nilai delapan dari sepuluh.”
Saya tertawa mendengarnya. Mereka menilai dengan cara mereka sendiri tanpa beban, tanpa
maksud apa pun selain kejujuran yang ringan. Mungkin terlihat sepele, bahkan lucu. Tapi bagi
saya, di situlah maknanya. Anak-anak merasa cukup aman dan nyaman untuk mengekspresikan
apa yang mereka pikirkan. Tidak ada jarak yang kaku, tidak ada rasa takut. Namun yang indah,
adab tetap terjaga. Sikap hormat, sopan, dan saling menghargai tetap mereka kedepankan.
Di momen-momen itu, saya sering memantik mereka dengan pertanyaan kecil atau studi kasus
sederhana. Kadang tentang pilihan, tentang sikap, tentang hal yang mereka temui sehari-hari.
Respon mereka hampir selalu mengejutkan, unik, jujur, dan berani. Jawaban-jawaban yang
mungkin tak akan muncul jika ruangnya terlalu formal. Di sana saya melihat keberanian tumbuh.
Keberanian untuk bersuara, untuk berbeda, dan untuk menjadi diri sendiri.
Rutinitas pagi itu saya lakukan hampir setiap hari kecuali ketika saya ada jadwal piket atau
kesibukan lain menuntut saya berada di tempat berbeda. Namun setiap kali saya ada di sana,
antrian itu tak pernah lagi terasa sebagai jeda yang membosankan. Ia menjadi ruang belajar yang
hidup
, tanpa papan tulis, tanpa buku, tanpa tekanan.

Menariknya, cerita ini tidak berhenti di pagi hari. Sore hari pun memiliki magisnya sendiri. Saat
waktu mulai melambat, ketika saya duduk santai sambil menikmati snack sore, kue dan teh buatan dapur sekolah, selalu ada saja anak-anak yang menghampiri. Entah anak-anak dari SD kecil atau SD besar. Mereka datang dengan pertanyaan, cerita, atau sekadar ingin duduk di dekat.
Ada yang bertanya hal-hal ringan. Ada yang membawa rasa penasaran. Ada pula yang mengajak
bermain teka-teki atau kartu UNO. Kami bermain sambil tertawa, kadang serius, kadang penuh
canda. Di momen itu, saya kembali diingatkan: hubungan tidak selalu dibangun lewat
pengajaran formal, tetapi lewat kehadiran yang tulus
.

Selama satu semester ini, saya belajar bahwa membangun relasi guru dan anak bukan tentang
menghilangkan batas, melainkan tentang menjaga batas dengan kehangatan. Tidak ada sekat
yang dingin, tetapi ada adab. Tidak ada jarak yang menakutkan, tetapi ada rasa hormat.
Mungkin yang saya lakukan terlihat sederhana: mengobrol di antrian, menjawab sapaan pagi, dan
tertawa di sore hari. Namun dari hal-hal kecil itulah saya melihat sesuatu yang besar sedang
tumbuh yaitu kepercayaan, kenyamanan, dan rasa memiliki.
Dan bagi saya, itulah makna menjadi guru di Rumah Sekolah Cendekia. Hadir, Mendengarkan,
Menumbuhkan. Di antara antrian pagi dan tawa sore
Sekian…..

Share the Post:

Related Posts

Festival Sate

nSate salah satu kuliner Indonesia yang banyak digemarinoleh kalangan masyarakat. Rumah Sekolah Cendekia mengadakan festival kulinernSate yang dirangkai dengan makan

Read More