Jurnal Cendekia

KEMPING KELUARGA RSC : KETIKA ORANG TUA SALING MENEMUKAN

📅 11 September 2026  ·  ✍️ Rumah Sekolah Cendekia

Ada sesuatu yang menarik dari sebuah pertemuan. Kadang-kadang, kita datang sebagai orang asing, lalu pulang membawa nama-nama baru di dalam ingatan.

Kita datang dengan anak masing-masing. Membawa perlengkapan camping, pakaian ganti, makanan, dan berbagai keperluan. Tetapi tanpa kita sadari, kita juga membawa sesuatu yang lain: jarak.

Jarak antara orang tua yang belum saling mengenal. Jarak antara keluarga yang selama ini hanya berpapasan. Jarak antara wali kelas dan orang tua yang mungkin selama ini hanya bertemu dalam ruang-ruang formal.

Lalu alam mempertemukan semuanya. Di bawah pohon-pohon pinus Bissoloro, Kabupaten Gowa, sekat-sekat itu perlahan runtuh. Barangkali memang demikian cara alam bekerja. Ia tidak banyak bicara, tetapi ia tahu bagaimana membuat manusia duduk lebih dekat.

Kemping Keluarga Rumah Sekolah Cendekia dengan tema “Butuh Sekampung untuk Menyalakan Cahaya Seorang Anak” pada akhirnya bukan hanya tentang anak-anak yang bermain di alam, orang tua yang mendirikan tenda, atau keluarga yang bermalam bersama.

Ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang tumbuh selama kegiatan itu: orang tua mulai saling mengenal.

Ada yang baru mengetahui bahwa anak dari orang yang selama ini ia sapa ternyata bersekolah di sekolah yang sama dengan anaknya. Ada yang selama ini hanya tahu wajahnya, tetapi tidak tahu namanya. Ada yang sering berpapasan di sekolah, tetapi belum pernah benar-benar duduk dan berbicara.

Ada pula orang tua yang pada awalnya lebih banyak diam, memilih berada di lingkaran kecilnya sendiri. Namun perlahan, percakapan membuatnya nyaman. Tawa membuatnya lupa bahwa mereka baru saja bertemu. Sebuah piring makanan menjadi alasan untuk duduk bersama. Sebuah pekerjaan sederhana menjadi pintu untuk saling membantu.

Dan tanpa terasa, orang-orang yang sebelumnya asing mulai menjadi akrab. Mungkin inilah salah satu bentuk pendidikan yang paling sering luput kita bicarakan: pendidikan tidak hanya mempertemukan anak dengan anak, tetapi juga mempertemukan orang tua dengan orang tua.

Ada pelajaran yang tidak tertulis ketika para Ayah bersama-sama membangun tenda. Tidak ada yang berdiri sebagai ahli dan yang lain hanya menjadi penonton. Ada yang memegang tiang. Ada yang menarik tali. Ada yang mencari pasak. Ada yang memberi arahan. Ada yang mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Tenda yang awalnya hanya berupa lembaran kain perlahan berubah menjadi tempat berteduh. Tetapi sebenarnya bukan hanya tenda yang sedang dibangun Melainkan sebuah hubungan sedang dibangun.

Begitu pula ketika para Ibu, Ayah, dan keluarga sibuk menyiapkan makanan. Dapur menjadi ruang perjumpaan yang sederhana. Orang-orang berbagi bahan, berbagi tugas, berbagi resep, bahkan berbagi cerita.

Dan ada satu pemandangan yang mungkin cukup menarik untuk dikenang: ketika para Ayah akhirnya turun tangan memasak. Mungkin ada yang biasanya jarang berada di dapur. Mungkin ada yang masih bertanya, “Ini bumbunya bagaimana?” atau “Sudah matang belum?” Tetapi saat itu, tidak ada yang terlalu sibuk menjaga gengsi. Yang ada hanyalah para Ayah yang sedang memasak untuk keluarga.

Di sana kita melihat sesuatu yang sederhana tetapi penting: ketika orang dewasa bersedia bekerja bersama, anak-anak sedang melihat contoh nyata tentang kolaborasi.

Mereka belajar bahwa keluarga bukan hanya tempat menerima kasih sayang, tetapi juga tempat setiap orang mengambil bagian. Namun mungkin, bagian paling berharga dari camping bukanlah ketika semua tenda telah berdiri. Bukan pula ketika makanan telah tersaji. Melainkan ketika percakapan mulai menjadi lebih dalam. Ketika orang tua mulai bercerita. Tentang anaknya. Tentang tantangan menjadi Ayah dan Bunda. Tentang anak yang sulit mengatur emosi. Tentang kebiasaan di rumah. Tentang bagaimana menghadapi anak yang mulai tumbuh besar. Tentang kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang kadang terlalu berat jika hanya disimpan sendiri.

Di sinilah camping berubah menjadi ruang yang berbeda. Bukan lagi sekadar ruang rekreasi. Ia menjadi ruang berbagi. Orang tua berbagi pengalaman parenting satu sama lain. Ada yang memberi saran. Ada yang bercerita tentang apa yang pernah ia lakukan. Ada yang sekadar mendengarkan. Dan ternyata, menjadi orang tua sering kali membuat kita membutuhkan hal yang sederhana: didengarkan tanpa dihakimi.

Lebih indah lagi ketika ruang berbagi itu mempertemukan orang tua dengan wali kelas. Di sekolah, hubungan guru dan orang tua terkadang berlangsung melalui pesan singkat, laporan perkembangan, pertemuan parenting, atau komunikasi mengenai kebutuhan anak.

Semua itu penting. Tetapi ada hal-hal yang tidak selalu bisa diceritakan melalui pesan singkat. Ada cerita tentang anak yang baru muncul ketika kita duduk berhadapan. Ada kekhawatiran yang baru terucap ketika suasana terasa lebih santai. Ada pertanyaan yang selama ini disimpan karena orang tua merasa sungkan. Ada pula cerita dari guru yang perlu disampaikan bukan sebagai teguran, tetapi sebagai bentuk kepedulian.

Maka malam itu, wali kelas bukan hanya hadir sebagai guru. Ia hadir sebagai teman perjalanan orang tua dalam memahami anak.

Dan orang tua pun bukan sekadar “wali murid”. Mereka hadir sebagai bagian penting dari kehidupan anak yang sedang bersama-sama kita tumbuhkan.

Di antara suara malam, tenda-tenda yang berdiri, makanan yang dibagikan, dan percakapan yang semakin hangat, muncul kesadaran bahwa: anak-anak yang kita didik ternyata sedang menghubungkan kita satu sama lain.

Mereka menjadi alasan mengapa kita bertemu. Mereka menjadi alasan mengapa kita belajar mengenal keluarga lain. Mereka menjadi alasan mengapa kita akhirnya duduk dalam satu lingkaran dan berbagi cerita.

Mungkin selama ini kita terlalu sering berpikir bahwa sekolah adalah tempat anak belajar. Padahal sekolah juga seharusnya menjadi tempat orang dewasa belajar bersama tentang bagaimana menemani anak tumbuh.

Sebab tidak ada buku yang benar-benar mampu memberikan satu resep parenting yang cocok untuk semua keluarga. Setiap anak memiliki cerita. Setiap keluarga memiliki latar belakang. Setiap orang tua memiliki pengalaman dan tantangannya sendiri. Karena itu, pendidikan membutuhkan percakapan. Membutuhkan keterbukaan. Membutuhkan kepercayaan. Dan terutama, membutuhkan komunitas.

Inilah mengapa kalimat “Butuh Sekampung untuk Menyalakan Cahaya Seorang Anak” terasa semakin nyata setelah camping ini selesai.

Sekampung ternyata bukan hanya sekumpulan orang yang tinggal berdekatan. Sekampung adalah orang-orang yang bersedia saling mengenal, saling membantu, saling mendengarkan, dan saling menjaga.

Ketika seorang Ayah membantu Ayah lainnya mendirikan tenda, di sana ada kampung. Ketika seorang Ibu berbagi makanan dengan keluarga lain, di sana ada kampung. Ketika orang tua saling bertukar cerita tentang anak-anak mereka, di sana ada kampung. Ketika wali kelas mendengarkan keresahan orang tua, di sana ada kampung. Ketika orang tua tidak lagi merasa sendirian dalam menjalani peran mendidik anak, di sana ada kampung.

Kemping akhirnya selesai. Tenda dibongkar. Barang-barang dikemas. Jalan pulang kembali ramai. Hutan Pinus Bissoloro perlahan kembali tenang. Tetapi semoga ada sesuatu yang tidak ikut dibongkar: kedekatan.

Satu hal yang juga menjadi harapan kita semua ketika anak-anak ini dewasa yaitu semoga mereka mengingat: bahwa ketika mereka kecil, ada banyak orang dewasa yang berkumpul, saling mengenal, dan memilih untuk berjalan bersama demi mereka.

Sebab untuk menyalakan cahaya seorang anak,

kita memang membutuhkan sekampung manusia yang bersedia menjadi cahaya bagi satu sama lain.

(Zulfikar Habibillah)

← Kembali ke Jurnal Cendekia